BWF Ungkap Tantangan Bergulirnya Turnamen Bulutangkis di Masa Pandemi

9/30/2020
Oleh Widya Amelia



(Jakarta, 30/9/2020)

Badminton World Federation (BWF) terus mengupayakan agar kompetisi bulutangkis bisa kembali bergulir di tengah pandemi Covid-19 yang telah menghantam dunia sejak awal tahun 2020. Turnamen terakhir yang berlangsung di tahun 2020 adalah All England pada bulan Maret. BWF telah merencanakan sejumlah turnamen namun terpaksa batal dilangsungkan seperti Piala Thomas dan Uber 2020 di Aarhus, Denmark.

Akan tetapi Denmark Open 2020 di Odense, tetap akan berjalan sesuai jadwal pada 13-18 Oktober 2020 mendatang.

Meskipun banyak cabang olahraga yang sudah memulai kompetisi seperti tenis, sepakbola dan lain sebagainya, namun bulutangkis yang secara tata pelaksanaannya lebih rumit, masih belum bisa kembali seperti sedia kala. Sekretaris Jenderal BWF Thomas Lund mengatakan bahwa bulutangkis melibatkan banyak negara yang memiliki aturan dan ketentuan berbeda-beda terkait antisipasi Covid-19.

"Di setiap ada turnamen, ada 300 atau kadang lebih dari 400 pemain dari 40-60 negara yang berbeda. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana membuat atlet-atlet ini bisa keluar dari negara mereka sendiri yang punya aturan mengenai Covid-19, serta memasuki negara lain dengan prosedur karantina dan sebagainya," ujar Lund dalam konferensi pers virtual, Selasa (29/9) malam.

Hal inilah yang menurut Lund menjadi tantangan tersendiri bagi bulutangkis untuk kembali berjalan. Penyelenggaraan bulutangkis yang melibatkan banyak pemain dari banyak negara, serta perjalanan lintas perbatasan negara di masa pandemi adalah hal yang tidak mudah untuk diimplementasikan.

"Setiap negara punya regulasi berbeda terkait Covid-19, sehingga hal ini membuat permasalahan menjadi lebih rumit untuk mengumpulkan orang sebanyak itu di satu lokasi untuk mengikuti sebuah turnamen. Inilah yang kami usahakan hingga saat ini salah satunya dengan mengadakan sejumlah turnamen di satu tempat yang sama," jelas Lund.

Sementara itu Presiden BWF, Poul Erik Hoyer menyampaikan rasa simpatinya kepada semua pihak yang terdampak ditiadakannya turnamen sebagai salah satu akibat dari wabah Covid-19, khususnya kepada para atlet yang sudah hampir delapan bulan tidak bertanding.

"Tentu saja saya berharap bulutangkis bisa kembali lagi, namun turnamen tidak bisa berjalan di bulan Oktober, tidak diragukan lagi bahwa semua ingin turnamen kembali berjalan. Kami ada di sini untuk para pemain, kami berusaha agar turnamen bergulir lagi," ujar Hoyer.

Peraih medali emas tunggal putra Olimpiade Atlanta 1996 ini juga menyatakan apresiasinya atas kerjasama dan dukungan pemerintah Thailand dan Badminton Association of Thailand (BAT) untuk mewujudkan pelaksanaan turnamen seri Asia di Thailand yang akan dimulai pada 12 Januari 2021.

Sementara itu pemain ganda putra Hendra Setiawan mengatakan bahwa keputusan pemain Indonesia untuk tidak berpartisipasi di Piala Thomas dan Uber 2020 telah dipertimbangkan matang-matang. Mereka berharap di tahun depan situasi akan membaik di tahun depan, seiring dengan persiapan penyelenggara yang bisa lebih komprehensif mengingat ini adalah turnamen yang melibatkan banyak pemain dari banyak negara.

"Kalau tahun ini kami memang belum berani untuk menempuh perjalanan jauh seperti ke Eropa. Sambil dilihat juga tahun depan seperti apa. Kemungkinan sih tahun depan akan bisa mulai lagi. Protokol kesehatan yang diterapkan negara penyelenggara juga menjadi salah satu faktor yang membuat pemain merasa aman untuk bertanding," kata Hendra.

Turnamen seri Asia pada awalnya akan dilangsungkan di bulan November, namun akhirnya dipindah ke Januari 2021. BWF menjelaskan bahwa mereka ingin memastikan semua logistik turnamen dapat terpenuhi demi kualitas turnamen, namun juga partisipasi atlet dan anggota asosiasi di turnamen ini sangatlah diharapkan, sehingga perubahan jadwal ke Januari adalah solusi terbaik. (*)

 

Foto & Video Terbaru